Logo Asad

Santri Sebagai Prajurit NKRI

Santri Sebagai Prajurit NKRI

“Selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa dan raga membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional, serta mewujudkan perdamaian dunia”

Begitulah bunyi ikrar Santri pada bait ke-3 yang mengandung makna mendalam, bahwa kiyai dan para santri memiliki peran yang cukup besar dalam memperebutkan kemerdekaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya para ulama dan santri yang ikut berperan dalam mempertahankan keutuhan negara. Selain itu, ada banyak peristiwa-peristiwa yang melibatkan ulama dan para santri dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan membela negara.

Satu diantaranya pada peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945, membubarkan Republik Indonesia  Serikat (RIS) dan menegakkan kembali NKRI 17 Agustus 1950, kemudian momen dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober yang menjadi cikal bakal kehadiran TNI.

Selanjutnya, TNI bersama para ulama dan santri mencetuskan resolusi jihad NU pada 22 Oktober 1945. Terakhir keterlibatan ulama dan santri dalam perang Surabaya pada 10 November 1945 yang akhirnya dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Dari banyaknya sejarah yang diukir oleh para ulama dan santri dalam membela kemerdekaan Indonesia. Dapat dipahami bahwa para ulama dan santri memiliki peran penting dalam negara kita tercinta ini. Hal ini bisa kita jadikan motivasi, bahwa menjadi seorang santri bukanlah hal yang sia-sia. Ada banyak hal yang dapat kita peroleh baik itu dari proses hingga menjadi seorang yang berguna dikemudian hari.

Bicara tentang ulama dan santri memang tidak ada habisnya, perjuangan yang mereka berikan untuk negara ini tidak bisa dihitung, oleh karena itu seorang Jendral TNI Angkatan Darat mengatakan “Saya akan merekrut prajurit baik tamtama maupun perwira khusus para santri dari pesantren-pesantren sudah pasti terjagalah akhlak dan perilakunya”

Dari ungkapan di atas sudah jelas, bahwa para santri semakin kuat kaitannya dengan kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)kita ini. Jika santri sebagai prajurit NKRI, insya Allah negara kesatuan kita ini akan dilandasi dengan akhlak, karena modal pertama seorang santri yaitu berakhlak. Hal ini dapat menjadi keistimewaan yang dimiliki oleh negara kita, karena mempunyai prajurit negara yang tidak hanya hebat tapi juga berakhlak dan berpegang teguh terhadap agama.

Kehadiran dan kesediaan santri untuk menjadi prajurit menjadi sangat penting bagi negara, karena seperti yang diketahui bahwa segala yang kita lakukan di negeri ini dalam urusan negara selalu berhubungan dengan undang-undang Dasar 1945 pasal 29 ayat 1, bahwa negara berdasar atas ketuhanan Yang Maha Esa.

Jadi, peran yang dipegang oleh santri saat ini sangat penting, selain sebagai jalan untuk menyebarkan agama Allah SWT, mereka juga sebagai pelindung negara. Untuk itu, santri juga memiliki tanggung jawab yang besar dalam kemajuan Negara Kesatuan Republi Indonesia.

Santri memiliki pengetahuan yang beragam. Mulai dari ilmu agama hingga ilmu umum pun mereka kuasai. Hal inilah yang membuat mereka berperan penting dalam berbagai keadaan. Kelebihan yang mereka miliki dan mental yang sudah dilatih sejak di pesantren yang membuat mereka mampu menguasai banyak lini. Baik itu dalam pemerintahan, agama, sosial, dan lain sebagainya.

Seorang santri mampu mengelola kewenangan-kewenangan, melaksanakan kepemimpinan dan koordinasi pemerintahan serta pembangunan masyarakat dari lembaga-lembaga di mana mereka ditempatkan. Karena kepemimpinan jika tidak dilandasi dengan hukum, maka akan runtuh, dan suatu hukum jika tidak berpegang teguh pada satu aspek yaitu aspek agama, (akidah), norma (syariah), hingga prilaku (akhlak) tidak akan berjalan dengan baik. Apalagi di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam.

Jadi, dari hal-hal yang sudah disebutkan bahwa santri mempunyai peran yang sangat penting dalam NKRI karena seorang santri memiliki pribadi yang lengkap untuk menjamin adanya persatuan dan kesatuan. Hubbul Wathon Minal Iman “cinta tanah air sebagian dari iman” diharapkan tidak hanya menjadi slogan formalitas, tapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan.

*Amalia Tahir

Santri kelas X Madrasah Aliyah Pondok Pesantren As’ad

ponpesasad

ponpesasad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *