Logo Asad

Peran Santri Dalam Dunia Digital

Peran Santri Dalam Dunia Digital

Peran Santri Dalam Dunia Digital

Ketika masa perjuangan melawan penjajah, para santri tidak hanya dituntut untuk menjadi alim, tapi juga harus mampu kokang sejata dan turun ke medan perang. Namun sekarang dunia telah mengalami perubahan yang sangat berbeda, perangnya bukan lagi angkat senjata, tapi harus mampu menguasai media, terutama media digital berbasis internet. Melalui internet, perkembangan dan perubahan dunia berlari kencang, terus berlanjut meninggalkan siapa saja yang berlari maraton apalagi yang jalan santai.

Peluang inilah yang wajib dimanfaatkan oleh para santri sebagai media informasi dan peneyabaran dakwah terutama kepada kaum milenial. Melalui media digital berbasis internet, Santri bisa menebar ilmu-ilmu yang diajarkan dalam pesantren. Hampir semua orang memiliki smart phone yang bisa mengakses semua bacaan, termasuk tentang agama, sosial bahkan belajar berbagai disiplin ilmu lainnya.

Meski laju perkembangan media digital melesat kendang, media cetak seperti karya tulis, majalah, buku bacaan dan media cetak lainnya, harus tetap dilestarikan. Santri wajib belajar menulis dan berkarya. Apa pun bentuk dan jenis karya tulisnnya.

Banyak orang alim di media digital berbasis internet. Sebutlah media sosial facebook, Instagram, twiter, tiktok dan lainnya. Namun konten alim yang mereka posting terkadang tidak berdasar. Maksudnya mungkin baik, dengan tujuan berdakwah dan mengajak kepada kebaikan. Namun dalam berdakwah ada metodenya, “manhaajuddakwah”.

K.H. Zaki Mubarok mengatakan dalam nu.or.id, setidaknya ada beberapa tingkatan yang dikuasai sebelum memulai berdakwah, termasuk berdakwah dalam dunia digital. Pertama, harus dengan kalimat yang ringan, ringkas, singkat namun berisi. Kalimat ini disebut dengan “Qoulan Maysura”. Kedua, kalimat yang tegas serta jujur. Dalam kaidah Arabnya dikenal dengan “Qoulan Syadiida”. Ketiga, perkataan atau kalimat yang santun, lemah lembut dan mengayomi. Agar para pendengar tergerak hatinya, timbul rasa simpati dan empati. Dalam Bahasa Arab dikenal dengan “Qoulan Layyina”. Keempat, perkataan yang bermutu namun disampaikan dengan cara yang baik serta disesuaikan dengan objek dakwahnya dan mempertimbangkan kearifan local setempat. Metode ini dikenal dengan “Qoulan Ma’ruufa”. Kelima, kalimat atau perkataan yang mengena sampai ke lubuk hati pendengar. Atau “Qoulan Baligho”. Yang terakhir, keenam, perkataan yang mulia, tidak ada unsur menyakiti hati para pendengar, tidak bermuatan sara, dan tidak mencaci. (Qoulan Kariima).

Tidak hanya metodenya yang harus benar dan sesuai, tapi metode dalam menggunakan dalil-dalil juga harus dipahami secara baik dan benar. Baik itu dalil ‘aqli (logika) maupun dalil naqli (nash).

Santri di pesantren telah dibekali dengan ilmu-ilmu seperti itu. Dalil logika, santri telah belajar Ilmu Mantiq, Ushul Fiqh dan perangkat ilmu lainnya. Dalil naqli, para santri dituntut untuk hafal nash-nash Al-Quran dan Hadits yang dilengkapi dengan Ilmu Ulumul Quran dan Ulumul Haditsnya. Dan satu ilmu yang tidak kalah penting yang wajib dikuasai dalam mendakwahkan Islam adalah Bahasa Arab. Maka santri telah memenuhi semua kriteria untuk bisa disebut sebagai “mubaligh”.

Hanya saja, pada abad sekarang, mubaligh harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Dakwahnya dituntut untuk bisa menguasai semua lini pembaharuan dunia. Hari ini, media digital berbasis internet adalah pembaharuan harga mati yang wajib dipelajari dan dikuasai dengan baik.

Pondok pesantren As’ad termasuk pesantren terbesar di provinsi Jambi. Fasilitasnya sudah memadai untuk menjadi pesantren unggulan dan percontohan. Santri memang tidak diizinkan membawa handphone, tapi mereka diberikan waktu untuk belajar media digital melalui kelas ekstrakurikuler. Santri diajarkan mengakses computer dan internet. Bahkan media pesantren secara professional dikelola oleh santri. Tentu tetap dalam pengawasan dan controlling yang ketat. Santri mampu mengoperasikan komputer dengan baik layaknya seperti alumni kampus jurusan komputer. Hasil ini tentu membanggakan. Insya Allah tahun-tahun berikutnya akan bermunculan konten-konten dakwah para santri Pondok Pesantren As’ad. Baik itu konten dalam bentuk narasi-narasi teks maupun audio visual. Apalagi sekarang di Pesantren As’ad telah diresmikan Abdul Qadir Media Center, sebagai Lembaga yang fokus dalam menerbitkan konten-konten dakwah yang dipublikasikan di media digital berbasis internet dan media cetak. Bimisllah, Pesantren As’ad menggapai dunia.

*Fajri Al Mughni

Pembina Izzatul As’adi (Tim Jurnalistik Santri Pondok Pesantren As’ad)

ponpesasad

ponpesasad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *